Kuli = 100K/Hari
Supir Angkot = 100K/Hari
Tukang Becak = 50K/Hari
Guru? = 1 Juta/TAHUN
Pandemi membuka mata hati para penduduk negeri. Ketika anak-anak biasanya belajar di sekolah, hari ini mereka harus belajar di rumah. Ketika siswa seharusnya dibimbing bapak ibu guru, saat ini mereka harus belajar pada ayah dan ibu.
Bagaimana?
Sudah tau rasanya mendidik anak sendiri?
Sudah tau betapa sebenarnya tidak mudah mengayomi aset negeri?
Media sosial ramai dengan postingan teriakan para orang tua yang merasa terbebani saat harus menemani anak belajar online. Tak sedikit dari mereka yang melakukan demonstrasi di sekolah-sekolah. Bahkan klimaksnya sempat terjadi pembunuhan akibat orang tua merasa jengah.
Lucu bukan?
Saat para orang tua merasa jengah dalam mendidik darah dagingnya sendiri sebab merasa memiliki tanggung jawab di rumah yang tiada henti. Lantas, apa kabar guru-guru kita selama ini yang mengajar tiap hari?
Apa mereka tidak berpikir bahwa selama ini GURU juga memiliki keluarga yang harus diperhatikan?
GURU juga memiliki anak yang harus dimanjakan.
GURU juga memiliki hati yang harus diistirahatkan.
Mengapa selama ini para guru tetap tersenyum dengan gaji yang pas-pasaan?
Sebab di hati mereka telah tertancap ghirah pendidikan yang mengakar hingga jiwa terdalam. LELAH mereka LILLAH.
Tak peduli, walau kadang satu jentikan jemari bisa membuat mereka harus mendekam di balik jeruji. Tak peduli, meski cubitan s*yang pada anak didiknya kadang membuat mereka harus digampar para orang tua dan wali.
Sebab bagi sebagia orang tua, guru hanya wajib mengajar. Haram menegur apalagi membentur. Padahal guru adalah murobbi, mereka adalah pendidik. Dan mendidik tidak selamanya harus dengan cara memanjakan. Sebab nafsu tidak akan diam apabila hanya lewat jalan halus yang melenakan.
Sesekali, anak-anak kita butuh teguran, butuh jentikan, butuh cubitan sayang yang tidak harus sampai melukai dan menyakitkan.
وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Seolah Adam yang pernah diusir dari Syurga. Bukan sebab Tuhan benci. Namun Tuhan ingin Adam kembali mengkaji. Perbuatan apakah yang telah ia lakukan hingga membuat Tuhan menyuruhnya turun ke bumi.
"Lagi pandemi masih terima gaji, gaji buta tuh," celetuk salah satu ibu-ibu rumpi saat sedang menyorot lelaki paruh baya berseragam krem kecoklatan yang baru saja turun dari motor tuanya.
Saya hanya tersenyum saat melihatnya. Betapa tidak, saya tau betul berapa honor dan gaji seorang guru. Jasa berbagi ilmu yang mereka jariahkan tak lebih tinggi dari sekedar para pekerja serabutan.
Bahkan 5 kali lipat di bawah santunan cuma-cuma yang diberikan pemerintah untuk para ibu rumah tangga. Tapi, selalu saja. Guru seolah tidak memiliki harga diri sebab menerima gaji. Meski gaji yang didapat justru dengan culas memperkosa jati diri.
Guru sertifikasi? Janji tunjangan 1.500.000/bulan atau 50K/Hari. Itupun jika jam mengajar valid. Jika tidak? Mereka hanya akan diperah dengan tuntutan berbagai macam beban administrasi sekolah. Lantas, mengapa guru selalu menjadi tersangka? Bukankah mereka telah berjuang mencerdaskan anak bangsa?
Guru memang tidak sekuat polisi dan ABRI. Tapi dari tangan gurulah jiwa kesatria mereka tergenapi. Guru memang tidak bisa menerbangkan pesawat layaknya para pilot negeri. Namun berkat gurulah para pilot mampu menerbangkan cita-cita mereka setinggi angkasa yang saat ini mereka jelajahi.
Guru, Bukankah seharusnya ditiru dan digugu?
Salam sabar untuk seluruh Guru di pelosok negeri.
Tetaplah berbakti meski jasa kalian tidak pernah diakui.
Sebab perjuangan ini bukan hanya perihal duniawi melainkan juga ukhrawi.
*Penulis adalah Khuwaidim Ma'had Aly