Oleh : S-Fyan
Aku tidak akan lari lagi,
sebab engkau adalah pembebas mata hati.
Neng..
Jika benar nama kita pernah bersanding di lauh mahfudz.
Lantas mengapa kita disibukkan mencari dan saling rebut?
Bukankah sejauh apapun kita pergi.
Sekeras apapun kita menghianati.
Jika qalam telah tergurat sempurna.
Maka lari_berontakpun hanya akan sia-sia.
Begitupun sebaliknya.
Sebab, semestapun telah bersaksi_Jiwa:
Kataballahu maqodiral kholãiqi qobla an yahluqossmawati wal ardhi bikhomsina Alfa sanah
Neng...
Menikah bukan hanya perihal berbagi kasih, bukan?
Ia juga perihal berbagi kisah kemerdekaan jiwa melebihi dua dunia dan seisinya.
Lantas, mengapa kita masih saja dijajah oleh tuntutan rasa cinta yang pada kenyataannya belum sama sekali menguar di dada?
Menikah juga bukan hanya perihal mencumbui pucuk kenikmatan, bukan?
Namun ia juga tentang menelan getahnya kesakitan. Cecap-cecapan luka perjalanan.
Juga cinta yang mungkin saat ini masih sebelah tangan.
Neng...
Cinta mungkin saat ini belum ada.
Sebab raga belum pernah dekat-mencecap rasa.
Dan aku tidak akan memaksa untuk mencintaimu melebihi cintaku pada-NYA.
Sebab leluhurku bilang:
Witing tresno jalaran soko kulino.
Witing mulyo jalaran wani rekoso.
Kebersamaan akan mengalahkan kisah_kasih para dewangga.
Pun kemakmuran akan tiba saat koyak raga tuntas menjalankan tugasnya.
Tugasku hanya mencintai sang MAHA cinta.
Maka biarlah sang pemilik cinta kelak yang akan menaburkan benih cinta sesuai porsinya.
Merdekalah bersamaku, Neng!
Saat tangan ayahmu kelak menggenggam tanganku.
Maka sudikah kau menerima baik_burukku, bahagia_kecewaku, pahala_dosa-dosaku serta gemulai lemah ragaku.
Sebab engkaulah Sang Srikandhi yang kelak akan menyeimbangkan ketidakberdayaanku.
Engkau pula kelak perisai, pelindung, penutup terbaik aib-aib gelapku.
Hunna libasullakum waantum libasullahun
Sing sabar e karo aku, Neng!
Benar aku bukan Dwipangga, Sang Raja penuh ksatria.
Bukan Sayyidina Ali, Sang Arjuna para shalihin yang sanggup memendam asmara cinta.
Bukan pula Yusuf, Sosok yang dalam kesakitanpun masih menjunjung singgasana amanah.
Tapi entahlah,
Seburuk apapun perwujudanku.
Sebusuk apapun jiwa-ruhku.
Kelak engkaulah sosok putri yang akan membimbing langkahku menuju lentera syurgaku, syurga kita.
Merdekalah bersamaku, Neng!
Saat kelak pucukmu telah Kutiup dengan doa-doa.
Maka seketika itulah aku pemilik mustika wedimu, gemimu, gematimu.
Jangan tanya lagi tentang masa lalu.
Sebab semediku telah kujaga sedemikian rupa demi masa depanku.
Kamulah si rusuk dan akulah punggung penyangga tegap yang akan terus_tulus memerdekakan kebengkokanmu.
Merdekalah bersamaku, Neng!
Hingga kelak kita lupa bahwa jiwa raga kita pernah terjajah jarak dan waktu yang tidak pernah sederhana. Rasaku, Rasamu, Rasa kita. (Vanilla_Kopi).